Indonesian Cloud

Public Cloud: Keunggulan, Risiko, dan Antisipasinya

Kebutuhan akan komputasi awan atau cloud computing makin meningkat seiring pertumbuhan startup atau perusahaan rintisan menghadirkan aplikasi super.

Aplikasi super atau superapps adalah aplikasi yang mencakup banyak layanan seperti yang bisa kita saksikan pada marketplace, perbankan, fintech dan sebagainya.

Teknologi cloud computing menjawab solusi layanan data yang lebih besar dari aplikasi yang sebelumnya monolitik, kemudian beralih ke micro services dan kemudian berkembang lagi menjadi aplikasi super.

Ketua Asosiasi Cloud dan Hosting Indonesia (ACHI), Rendy Maulana Akbar, sebagaimana dikutip dari Bisnis.com (25/3/2021), mengungkapkan tren startup menghadirkan aplikasi super itu meningkatkan kebutuhan infrastruktur komputasi awan sekitar 10-20 persen.

Riset sejumlah lembaga menunjukkan potensi Indonesia sebagai raja ekonomi berbasis internet di Asia Tenggara. Itu mengacu riset Google, Temasek, dan Bain pada 2019 sebagaimana dilansir Tirto.id (19/11/2020). Riset itu bertajuk e-Conomy SEA 2019.

Pada 2019, Indonesia telah menguasai 40% dari total nilai ekonomi berbasis internet di Asia Tenggara. Nilai ekonomi berbasis internet Indonesia mencapai 40 miliar dollar atau Rp567,9 triliun.

Proyeksinya, angka ini akan melonjak 32 persen menjadi 133 miliar dollar AS pada tahun 2025 mendatang.

Baca juga: Platform Kewirausahaan Nasional, Teknologi Digital adalah Kunci

Public Cloud

Mengutip Indonesian Cloud (diakses pada 9/4/2021), survei RightScale pada 2017 menunjukkan 79% perusahaan yang menggunakan cloud, 41% memakai public cloud dan 38% nyaman dengan private cloud.

Photo by panumas nikhomkhai from Pexels

Saat ini berkembang tiga layanan cloud. Yaitu public cloud, private cloud, dan hybrid cloud.

  • Public cloud adalah layanan cloud yang menyediakan layanannya secara publik di internet.
  • Private cloud adalah layanan yang hanya menyediakan layanannya ke orang-orang atau perusahaan tertentu.
  • Hybrid Cloud adalah kombinasi baik public cloud maupun private cloud.

Mengapa Cloud Computing?

Seperti disampaikan di atas, orang butuh menggunakan cloud computing karena perlu ruang yang lega untuk menyimpan sumber daya dan menggunakannya agar lebih produktif, cepat, efisien, dan aman.

Cloud computing memungkinkan informasi diakses secara remote di ruang virtual atau sebutannya awan. Para pengguna bisa menyimpan file dan aplikasi dari server jarak jauh dan leluasa mengaksesnya sepanjang jaringan internet lancar.

Layanan cloud computing utamanya terdiri atas tiga hal, yaitu software-as-a-service (SaaS), infrastructure-as-a-service (IaaS), dan platform-as-a-service (PaaS).

Bagaimana cara kerja komputasi awan?

Ada dua faktor penting dalam komputasi awan, yaitu data center dan internet. Perusahaan penyedia layanan cloud computing biasanya menawarkan penggunaan sumber daya berbasis on-demand.

Kebijakan harga seperti itu agar pengguna bisa lebih rasional mengkalkulasi penggunaan sumber daya dan mengestimasi biaya yang harus dikeluarkan.

Adapun faktor biayanya antara lain pemeliharaan data center, biaya sewa, harga hardware maupun software, spesifikasi CPU, RAM, dan sebagainya.

Baca juga: Digital Talent Scholarships DTS Kominfo

Public Cloud lebih populer

Layanan public cloud lebih populer dan lebih banyak digunakan. Alasannya antara lain karena biaya cenderung lebih irit dibandingkan menggunakan private cloud.

Faktor biaya ini menjadi kelebihan public cloud yang utama. Dengan menggunakan public cloud perusahaan bisa menghemat anggaran lumayan bila dibandingkan harus membayar private cloud.

Penyedia layanan public cloud untuk korporasi, Indonesian Cloud dapat membantu Anda. Mereka menyediakan beragam public cloud populer mulai dari AWS, Microsoft Azure, IBM, Huawei Cloud, hingga Alibaba Cloud.

Photo by Christina Morillo from Pexels

Dalam layanan public cloud ini pengguna tidak perlu membeli hardware, pengelolaan, dan maintanance on-premise.

Namun demikian, ada sejumlah keterbatasan bila menggunakan public cloud. Sebab, kendali penggunanya terbatas.

Public cloud membatasi kendali penggunanya karena lingkungan ini berbagi. Konsumen tidak diberikan akses ke hypervisor.

Risiko menggunakan public cloud lainnya adalah masalah cadangan backup. Pengguna perlu mengantisipasi risiko kehilangan data.

Kejadian kehilangan data pernah terjadi pada Amazon 2011 yang kehilangan data klien. Pun Google pernah mengalami kehilangan data klien pada 2015.

Isu keamanan juga harus dipikirkan saat menggunakan public cloud. Karena public cloud ini beroperasi pada lingkungan multi-tenant, ada kerentanan ancaman keamanannya sendiri.

Soal kepemilikan data juga menjadi isu pada beberapa penyedia jasa public cloud. Karena itu sangat penting untuk membaca SLA secara cermat dan menyeluruh.

Disaster Recovery

Potensi risiko seperti diuraikan di atas perlu diantisipasi. Itulah mengapa ada layanan Cloud Disaster Recovery yang belakangan makin berkembang.

Salah satu penyedia layanan Cloud Disaster Recovery adalah Indonesia Cloud yang memberikan proteksi sistem, aplikasi, dan data sebelum dan sesudah bencana terjadi.

Misalnya saja terjadi kegagalan di data center utama, Cloud Disaster Recovery akan mengambil alih sehingga bisnis konsumen tetap berjalan dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.